BRIDA Riau Gali Potensi "Green Graphite" Biomassa dan Logam Tanah Jarang untuk Dongkrak PAD Masa Depan

BRIDA Riau Gali Potensi "Green Graphite" Biomassa dan Logam Tanah Jarang untuk Dongkrak PAD  Masa Depan

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau terus berupaya menggali potensi sumber daya alam baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu kajian strategis yang kini tengah didorong adalah pemanfaatan Critical Raw Material (CRM) berupa Graphite-Biomassa dan Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang.

Staf BRIDA Provinsi Riau, Dr. Lukman Hakim Nasution, S.T., M.T., dalam kajiannya mengungkapkan bahwa Provinsi Riau memiliki kekayaan material yang belum tergarap optimal, namun memiliki nilai strategis tinggi bagi teknologi masa depan.

Transformasi Limbah Sawit Menjadi "Green Graphite"

Dalam paparan kajiannya, Lukman menjelaskan bahwa kebutuhan dunia akan unsur karbon terus meningkat. Meskipun batuan sedimen organik seperti batu bara masih menjadi sumber utama, tren global mulai beralih ke material ramah lingkungan.

Riau, sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar, memiliki peluang besar. Produksi kelapa sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 48 juta ton pada tahun 2023 menyisakan potensi biomassa yang melimpah.

"Limbah perkebunan seperti tandan kosong dan cangkang kelapa sawit di Riau dapat dijadikan sumber CRM Graphite-Biomassa. Potensi biomassa ini dapat diolah menjadi raw material sumber karbon-graphite," ujar Lukman.

Proses karbonisasi dari berbagai jenis biomassa ini—termasuk dari perkebunan karet dan kelapa—ditargetkan untuk menghasilkan Green Graphite yang diprediksi menjadi Critical Raw Material penting pada rentang tahun 2025 hingga 2035.

Logam Tanah Jarang: Komoditas Strategis Teknologi Tinggi

Selain biomassa, kajian ini juga menyoroti potensi Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang. REE merupakan kumpulan 17 unsur kimia (seperti Lanthanum, Cerium, Neodymium) yang sangat vital bagi industri teknologi modern.

"Komoditas REE menyumbang peran krusial dalam kemajuan teknologi, mulai dari telepon seluler, komputer, baterai isi ulang, magnet, hingga peralatan militer. Bahkan, REE menjadi komponen kunci dalam pengembangan energi baru terbarukan," jelas Peneliti BRIDA Riau tersebut.

Menariknya, keberadaan REE ini sering kali berasosiasi dengan endapan batu bara dan abu sisa pembakaran batu bara pada PLTU, yang mana pembentukannya dipengaruhi oleh kondisi geologi yang beragam.

Rencana Strategis Eksplorasi di Kabupaten/Kota

Untuk mengoptimalkan potensi ini, diperlukan tahapan eksplorasi yang sistematis, mulai dari survei tinjau (reconnaissance), prospeksi, hingga eksplorasi rinci. Tujuannya adalah menemukan endapan mineral secara efektif dan efisien.

Dalam rencana strategis kajian ini, observasi dan eksplorasi terapan direncanakan akan menyasar berbagai lokasi di Kabupaten/Kota di Riau. Beberapa wilayah yang menjadi target observasi antara lain Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Bengkalis, Siak, Rokan Hulu, Kuantan Singingi, Pelalawan, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kampar.

Kegiatan ini nantinya akan melibatkan koordinasi lintas sektor, mulai dari Bappeda, Dinas Perindustrian & Perdagangan, hingga pemerintah kecamatan dan desa setempat.

Dampak Ekonomi bagi Riau

Kajian observasi dan eksplorasi terapan untuk CRM dan REE ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran teoritis. Output akhirnya diharapkan mampu memberikan pemahaman baru akan Sumber Daya Alam (SDA) Riau yang dapat dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Melalui program ini, kita berharap dapat menambah literatur mengenai REE dan menjadikannya panduan untuk pengungkapan sumber daya yang berujung pada peningkatan PAD, khususnya bagi Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau," tutup Lukman.